15 Agt 2026 - 144 View
MAUMERE, NTT — Gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026. Guncangan kuat yang berlangsung cukup lama tersebut memicu kepanikan masyarakat di sejumlah daerah serta menyebabkan kerusakan pada bangunan dan infrastruktur.
Salah satu dampak serius dilaporkan terjadi di Pelabuhan Lorens Say Maumere, Kabupaten Sikka. Ruang tunggu pelabuhan roboh akibat kuatnya guncangan gempa. Tim SAR gabungan kemudian bergerak melakukan evakuasi di lokasi bangunan yang runtuh.
Laporan awal menyebutkan adanya korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, jumlah pasti korban maupun tingkat kerusakan masih dalam proses pendataan dan verifikasi oleh petugas di lapangan.
Gempa tersebut juga dilaporkan memicu longsor di sejumlah lokasi. Beberapa bangunan mengalami kerusakan, bahkan sebagian dilaporkan roboh. Kondisi ini turut mengganggu aktivitas masyarakat serta berpotensi menghambat akses transportasi dan mobilitas warga.
Warga Berhamburan Keluar Rumah
Saat gempa terjadi, kepanikan langsung melanda masyarakat. Warga yang berada di dalam rumah, perkantoran maupun bangunan lainnya memilih berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.
Getaran yang berlangsung cukup lama membuat masyarakat khawatir akan terjadinya gempa susulan. Sebagian warga memilih berkumpul di tempat terbuka dan menjauh dari bangunan yang berpotensi mengalami kerusakan.
Kewaspadaan semakin meningkat setelah adanya peringatan mengenai potensi tsunami. Masyarakat yang berada di kawasan pesisir langsung menjauh dari garis pantai dan mencari lokasi yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi.
BMKG Keluarkan Peringatan Tsunami
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa M7,7 tersebut berpotensi menimbulkan tsunami.
Data awal BMKG mencatat pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Gempa terjadi pada sekitar pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA.
Dampak gempa kemudian diikuti oleh terdeteksinya gelombang tsunami di sejumlah wilayah. BMKG mencatat gelombang setinggi sekitar 36 sentimeter di Labuan Bajo, sekitar 38 sentimeter di Pelabuhan Kewapante, Kabupaten Sikka, dan mencapai sekitar 94 sentimeter di Maurole, Kabupaten Ende.
Informasi tersebut membuat masyarakat di kawasan pesisir semakin meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta tidak mendekati pantai dan mengikuti arahan petugas selama peringatan tsunami berlangsung.
Peringatan Tsunami Diakhiri
Setelah melakukan pemantauan terhadap kondisi muka laut dan aktivitas gempa, BMKG kemudian mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB.
Meski peringatan tsunami telah berakhir, masyarakat tetap diminta waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan. Warga juga diimbau tidak terburu-buru memasuki bangunan yang mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman oleh petugas atau pihak berwenang.
Pendataan Kerusakan Masih Berlangsung
Gempa M7,7 ini menjadi salah satu peristiwa yang menimbulkan dampak serius bagi masyarakat di Flores dan sejumlah wilayah NTT. Selain memicu kepanikan, guncangan juga menyebabkan kerusakan bangunan, infrastruktur, longsor, serta dilaporkan menimbulkan korban jiwa.
Aparat gabungan bersama BPBD, Basarnas, TNI-Polri, tenaga kesehatan dan masyarakat terus melakukan evakuasi, pencarian, pertolongan serta pendataan terhadap dampak gempa.
Pemerintah daerah di wilayah terdampak diharapkan segera melakukan asesmen menyeluruh terhadap kondisi bangunan dan infrastruktur, termasuk jalan, jembatan, pelabuhan, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan serta sarana transportasi lainnya.
Pendataan tersebut penting untuk memastikan kondisi masyarakat terdampak sekaligus menentukan langkah penanganan dan pemulihan pascabencana.
Masyarakat Diminta Tidak Terpengaruh Informasi Hoaks
Di tengah situasi bencana, masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Informasi mengenai gempa susulan, potensi tsunami, kondisi korban maupun perkembangan evakuasi hendaknya mengacu pada keterangan resmi dari BMKG, BNPB/BPBD, Basarnas, TNI-Polri, dan pemerintah daerah.
Peristiwa gempa ini kembali mengingatkan bahwa Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu wilayah yang memiliki aktivitas kegempaan tinggi. Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat, kualitas konstruksi bangunan, ketersediaan jalur evakuasi serta kecepatan respons pemerintah dan petugas menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko korban ketika bencana kembali terjadi.
Hingga kini, proses evakuasi dan pendataan dampak gempa masih terus dilakukan. Informasi mengenai jumlah korban dan kerusakan dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.
Editor : Airon Salek
0
0
0
0
0
0