1 Nov 2025 - 541 View
Tanah Datar, RedaksiDaerah.com — Denting talempong dan lantunan pasambahan menggema di udara sejuk Batipuh Baruah, Sabtu (1/11/2025). Nagari yang sarat sejarah itu menjadi saksi kebangkitan tradisi lisan Minangkabau lewat Event Pasambahan Kato se-Pabasko — ajang budaya yang mempertemukan 17 nagari dari Kabupaten Tanah Datar dan Kota Padang Panjang.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, ST, didampingi Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, H. Rony Mulyadi, SE, Dt. Bungsu, tokoh muda yang dikenal getol memperjuangkan adat dan kebudayaan Minangkabau melalui jalur politik. Event tersebut merupakan realisasi Pokok Pikiran (Pokir) Rony Mulyadi, yang dialokasikan khusus melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat.
Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Dr. H. Jefrinal Arifin, SH, M.Si, menegaskan, Pasambahan Kato bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. “Tradisi pasambahan kato adalah wujud kesopanan, penghormatan, dan filosofi hidup urang awak. Melalui kegiatan ini, kita mendidik generasi muda agar kembali memahami makna tutur, tata krama, dan nilai adat,” tegasnya.
Sebanyak 16 kelompok peserta dari nagari-nagari se-Pabasko ambil bagian dalam lomba yang berlangsung selama dua hari penuh, masing-masing beranggotakan lima orang.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Vasko Ruseimy memberi apresiasi terhadap kiprah Rony Mulyadi. “Saya memanggil beliau Angku Bungsu — anak muda rantau yang tidak lupa akar budayanya. Meski tinggi tabangnya di rantau, tapi ia tetap pulang membangun adat dan budaya kampung halaman. Ini langkah luar biasa,” ucapnya disambut tepuk tangan hadirin.
Vasko menegaskan, pelestarian budaya merupakan prioritas moral dan identitas pembangunan Sumatera Barat. Ia memaparkan, sejak awal masa jabatannya, Pemprov Sumbar telah meluncurkan program Nagari Kreatif Hub dan mengintegrasikan silek tradisi ke dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah. “Budaya bukan pelengkap pembangunan, tapi pondasi moral bangsa. Jika budaya hilang, jati diri ikut terkikis,” ujarnya tegas.
Ia juga mengingatkan bahwa dari sekitar 200 aliran silek tradisi Minangkabau, kini tersisa kurang dari 50 yang masih aktif. “Kita sedang berada di ambang kehilangan warisan besar. Karena itu, kegiatan seperti Pasambahan Kato ini adalah langkah paling bermartabat untuk menyelamatkan jati diri urang awak,” tegas Vasko.
Sementara itu, H. Rony Mulyadi, SE, Dt. Bungsu, menyatakan bahwa kegiatan ini adalah bentuk nyata komitmen dirinya dalam melestarikan adat dan budaya. “Tahun lalu kami berjanji, tahun ini kami buktikan. Tahun depan, insya Allah, Pasambahan Kato akan digelar lebih besar lagi. Karena budaya tak boleh hanya jadi kenangan — harus dijaga dan dihidupkan,” ujarnya penuh semangat.
Politisi muda Gerindra itu juga menekankan pentingnya regenerasi nilai adat melalui pendidikan karakter. Ia menyebut, ke depan akan digelar pelatihan khusus bagi Rang Mudo dan Putiah Bungsu, untuk membekali calon pasangan muda dengan etika, adat, dan sopan santun khas Minangkabau. “Kita tidak mau anak kamanakan kehilangan adab. Dari adat, mereka belajar bagaimana menghormati, berbicara santun, dan hidup beradat,” tambahnya.
Saat diwawancarai usai pembukaan acara, Wali Nagari Batipuh Baruah, Mulyadi, BJ, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan besar ini di nagarinya. Ia menilai, Event Pasambahan Kato se-Pabasko bukan hanya menghidupkan kembali tradisi, tetapi juga meneguhkan peran Batipuh Baruah sebagai pusat kebudayaan Minangkabau di wilayah Pabasko. “Ini momentum yang langka. Kami bangga karena Batipuh Baruah dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan yang mengangkat marwah adat dan kearifan lokal urang awak,” ujarnya.
Lebih jauh, Mulyadi menegaskan komitmen pemerintah nagari dalam mendukung pelestarian budaya melalui program berkelanjutan. Ia menyebut akan memasukkan pembinaan pasambahan kato dan seni tradisi lainnya ke dalam agenda resmi nagari setiap tahun. “Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti sebagai event seremonial. Setelah ini, akan ada pelatihan rutin bagi generasi muda agar mereka bisa tampil dan memahami makna adat dari hati, bukan sekadar dari hafalan,” tegasnya penuh keyakinan.
Suasana kian semarak dengan penampilan ragam kesenian Minangkabau — dari dendang, tari tradisi, hingga silek tuo — yang ditampilkan secara bergantian. Ribuan warga tumpah ruah di halaman kantor Wali Nagari Batipuh Baruah, menikmati pertunjukan yang sarat nilai dan makna budaya.
Turut hadir Wali Kota Padang Panjang, H. Hendri Anis, BSBA, yang memberikan apresiasi atas inisiatif budaya ini. “Pabasko adalah pusat denyut kebudayaan Minangkabau. Kegiatan seperti ini membuktikan bahwa warisan leluhur masih hidup dan terus bernafas di tengah masyarakat,” ujarnya singkat namun berisi.
Acara pembukaan ditutup dengan alunan musik tradisi Minang, diiringi seluruh tamu kehormatan berdiri memberi penghormatan. Di antara deretan pejabat dan niniak mamak, tergambar satu tekad bulat: melestarikan warisan Minangkabau bukan sekadar kebanggaan masa lalu, tapi tanggung jawab sejarah.
Menutup kegiatan, Rony Mulyadi menyampaikan pesan tajam yang langsung menancap di benak audiens:
“Adat bukan untuk dibanggakan di podium, tapi untuk diamalkan dalam hidup sehari-hari. Kalau urang awak hilang pasambahannya, maka hilanglah separuh harga dirinya.”
---
Reporter: Fernando
Editor: RD TE Sumbar
0
0
0
0
0
0