15 Agt 2026 - 13 View
Sawahlunto, RedaksiDaerah.com — Menjelang satu abad Perlawanan Silungkang 1927, panitia peringatan mulai mengintensifkan persiapan dengan melakukan survei jalur napak tilas yang memiliki keterkaitan dengan pergolakan rakyat Silungkang pada malam pergantian tahun 1926 menuju 1927. Survei ini menjadi langkah awal untuk memastikan peringatan bersejarah tersebut tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi mampu menghadirkan kembali jejak perjuangan secara nyata.
Jumat (14/8/2026), rombongan panitia menyusuri Terowongan Lubang Kalam sepanjang sekitar 828 meter dengan berjalan kaki. Dari lorong bersejarah tersebut, perjalanan dilanjutkan melalui jalur rel kereta api sekitar satu kilometer menuju pusat Kota Sawahlunto. Rute itu dipilih karena menyimpan jejak penting yang menghubungkan ruang pertambangan, transportasi, kekuasaan kolonial, hingga sejarah perlawanan masyarakat.
Survei dipimpin Wakil Ketua Bidang Acara Peringatan 100 Tahun Perlawanan Silungkang. Kepala Desa Silungkang Oso Ferdinal bersama sejumlah panitia turut mengikuti perjalanan tersebut. Mereka tidak hanya memeriksa kondisi jalur, tetapi juga memetakan berbagai kebutuhan teknis yang berkaitan dengan keselamatan, kelancaran perjalanan, hingga titik akhir pelaksanaan renungan suci.
Terowongan Lubang Kalam sendiri merupakan bagian dari jaringan perkeretaapian peninggalan kolonial yang menghubungkan kawasan Sawahlunto dengan Muaro Kalaban. Berdasarkan dokumen nominasi Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto, terowongan tersebut memiliki panjang sekitar 828 meter. Menyusurinya menjelang peringatan satu abad perlawanan memberi dimensi berbeda: sejarah tidak sekadar dibaca, tetapi ditempuh melalui ruang yang masih meninggalkan jejak masa lalu.
Dari pintu keluar terowongan, peserta napak tilas nantinya akan menyusuri jalur rel sekitar satu kilometer hingga mencapai kawasan Societeit Glück Auf, bangunan yang kini menjadi Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto. Bangunan yang berdiri sejak 1910 itu pada masa kolonial digunakan sebagai tempat pertemuan dan hiburan bagi pejabat pemerintah kolonial yang bekerja di kawasan pertambangan Ombilin.
Bagi panitia, titik akhir tersebut bukan sekadar garis finis perjalanan. Kawasan Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto diproyeksikan menjadi lokasi renungan suci untuk mengenang para pejuang yang berkaitan dengan sejarah Perlawanan Silungkang. Di tempat yang dahulu menjadi bagian dari ruang sosial elite kolonial itulah, peserta akan diajak menundukkan kepala dan membaca kembali sejarah dari perspektif perjuangan rakyat.
Wakil Ketua Bidang Acara mengatakan, napak tilas dirancang untuk menghadirkan pengalaman sejarah secara lebih dekat. Peserta tidak hanya diharapkan memahami peristiwa melalui buku dan narasi sejarah, tetapi juga merasakan secara langsung jalur yang menjadi bagian dari ruang historis tersebut. “Kami ingin peserta tidak hanya membaca sejarah dari halaman buku. Mereka akan berjalan melewati jalur yang memiliki hubungan dengan peristiwa 1927,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan obor dalam kegiatan nantinya juga memiliki pesan simbolik. Cahaya obor diposisikan sebagai lambang kesinambungan ingatan terhadap perjuangan yang tidak boleh padam. “Obor bukan sekadar penerangan. Bagi kami, ini menjadi simbol bahwa ingatan terhadap perjuangan tidak boleh padam,” katanya.
Ia menegaskan, peringatan satu abad Perlawanan Silungkang tidak seharusnya berhenti pada romantisme sejarah. Momentum tersebut perlu menjadi ruang untuk membaca kembali peristiwa secara utuh, kritis dan berbasis sumber. “Yang terpenting adalah menghormati fakta, menghormati para pejuang, dan memastikan generasi berikutnya mengetahui bahwa pernah ada perlawanan terhadap kekuasaan kolonial di tanah ini,” ujarnya.
Survei jalur Lubang Kalam–Sawahlunto akhirnya menempatkan napak tilas bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan menembus ingatan kolektif. Hampir satu abad setelah pergolakan 1927, lorong, rel, dan bangunan peninggalan kolonial kembali dipertemukan dalam satu rangkaian sejarah. Di sanalah pesan utama peringatan satu abad itu diuji: apakah sejarah hanya akan dikenang sebagai masa lalu, atau kembali dihidupkan sebagai pengetahuan yang membentuk kesadaran generasi hari ini.
Reporter: Fernando Stroom
Editor: RD TE Sumbar
Sumber: liputan/ rilis
0
0
0
0
0
0