Opini

22 Feb 2026, 3 View

Buku Gercep Mahyeldi Vasco Wujud Pergerakan Politik Hidup

“Gercep: Mahyeldi–Vasko untuk Sumatera Barat”
Catatan Demokrasi, Catatan Perjuangan, Catatan Sejarah
Oleh: Pax Alle (William Nursal Devarco)
Praktisi Media, Aktivis, Kreator, Pelaku Industri Kreatif & Organisasi
Sebagai seseorang yang tumbuh dari lorong-lorong kehidupan rakyat, pernah merasakan kerasnya jalanan, dinamika organisasi, dunia media nasional, panggung seni, hingga ruang-ruang diskusi intelektual, saya membaca buku Gercep: Mahyeldi–Vasko untuk Sumatera Barat karya Yohanes Wempi bukan sekadar sebagai kumpulan tulisan kampanye — tetapi sebagai dokumen pergerakan politik yang hidup.
Saya memahami betul bagaimana sebuah narasi politik dibangun. Sejak 1993 saya berada di dunia media dan pergerakan, menyaksikan langsung bagaimana opini bisa menjadi energi kemenangan atau justru menjadi alat pembunuh karakter. Buku ini memperlihatkan satu sisi penting dari demokrasi: kerja sunyi para penulis opini.
Pasangan Mahyeldi Ansharullah dan Vasko Ruseimy tidak hanya bergerak dalam ruang kampanye fisik, tetapi juga dalam ruang gagasan. Dan Yohanes Wempi memilih medan juangnya di wilayah literasi politik — membangun framing, menjaga citra, dan memastikan pesan sampai ke ranah maupun rantau.
Demokrasi Butuh Arsip, Bukan Sekadar Euforia
Dalam pengalaman saya membangun dan menghidupkan media — dari lokal hingga jejaring nasional — satu hal yang sering hilang dalam politik kita adalah dokumentasi yang sistematis. Banyak yang berjuang, sedikit yang mencatat. Banyak yang menang, sedikit yang membukukan prosesnya.
Di sinilah buku ini menjadi penting.
Ia bukan hanya glorifikasi kemenangan. Ia adalah jejak bagaimana opini dibangun secara konsisten, terstruktur, dan terorganisir. Dalam ilmu komunikasi politik, ini adalah kerja framing yang sah dalam demokrasi — selama dilakukan dalam koridor etika.
Buku ini juga membuka ruang evaluasi. Karena ketika janji sudah terdokumentasi, publik memiliki alat untuk mengukur. Apakah “Gercep” menjadi gerak nyata dalam kebijakan? Atau berhenti sebagai slogan retoris?
Sebagai aktivis, saya percaya kritik dan apresiasi adalah dua sisi mata uang yang sama dalam demokrasi.
Perspektif Saya sebagai Pelaku Multidimensi
Saya melihat buku ini dari banyak sudut:
Dari sudut organisasi, ini adalah bentuk loyalitas intelektual terhadap perjuangan politik.
Dari sudut media, ini contoh bagaimana opini publik dibentuk secara konsisten.
Dari sudut politik, ini adalah strategi komunikasi yang efektif.
Dari sudut akademik, ini bisa menjadi bahan penelitian tentang korelasi antara janji kampanye dan realisasi kebijakan.
Dari sudut budaya Minangkabau, ini adalah tradisi “bakaba” modern — menyampaikan cerita perjuangan dalam bentuk tulisan.
Dalam adat Minang, sejarah lisan diwariskan turun-temurun. Kini, Yohanes Wempi memilih mewariskannya dalam bentuk buku. Itu adalah langkah literasi yang patut dihargai.
Keberanian Menerbitkan, Keteguhan Mencatat
Saya tahu, tidak semua karya politik diterima semua pihak. Buku seperti ini pasti mengundang pro dan kontra. Namun demokrasi tanpa keberanian mencatat adalah demokrasi yang mudah lupa.
Sebagai insan yang telah melewati berbagai tekanan, ancaman, dan dinamika dalam dunia media dan organisasi, saya memahami bahwa mencatat adalah bentuk keberanian. Menyimpan dokumen sejarah adalah bentuk tanggung jawab.
Dan buku ini adalah bagian dari itu.
Catatan Kritis
Namun sebagai seseorang yang menjunjung integritas, saya juga berpendapat:
Buku ini akan semakin kuat jika di masa mendatang dilengkapi dengan evaluasi objektif terhadap capaian satu tahun pemerintahan. Tidak hanya narasi perjuangan, tetapi juga data realisasi.
Karena pada akhirnya, rakyat menilai dari kerja nyata.
Penutup
Saya menghargai upaya Yohanes Wempi membukukan dinamika kampanye sebagai dokumen sejarah Sumatera Barat. Ini bukan hanya buku tentang pasangan calon. Ini adalah buku tentang bagaimana demokrasi bekerja — melalui kata, opini, dan konsistensi narasi.
Waktu akan menguji slogan.
Kinerja akan menjawab janji.
Sejarah akan mencatat semuanya.
Dan buku ini sudah mengambil satu langkah: memastikan sejarah itu tidak hilang.
Salam literasi dan demokrasi,
Pax Alle
William Nursal Devarco
Praktisi Media & Pergerakan
Pelaku Industri Kreatif | Aktivis | Pemateri Nasional

Apa yang anda rasakan setelah membacanya...?

love

0

Suka
dislike

0

Kecewa
wow

0

Wow
funny

0

Lucu
angry

0

Marah
sad

0

Sedih