15 Sep 2026 - 20 View
PADANG — Kehadiran film horor Urang Bunian yang mengangkat mitologi dan kisah dunia gaib dari Ranah Minang mulai menarik perhatian publik. Bukan hanya karena pengalaman para pemain saat menjalani proses syuting di kawasan hutan Sumatera Barat, tetapi juga karena film ini menghadirkan karakter dan kekuatan budaya lokal yang cukup kuat.
Salah satu yang memberikan perhatian khusus adalah Alle De Varco, aktor, sineas, sekaligus tokoh komunitas perfilman yang pernah terlibat dalam satu garapan film layar lebar bersama Dimas Aditya pada 2016.
Alle menilai karya yang diproduksi di Ranah Minang melalui rumah produksi DHF Entertainment di bawah arahan sutradara Rendy H tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata.
Menurutnya, Urang Bunian memiliki kekuatan tersendiri karena tidak sekadar menjadikan latar Sumatera Barat sebagai lokasi pengambilan gambar, tetapi juga membawa karakter, kultur, imajinasi dan atmosfer Minangkabau ke dalam cerita.
“Karya yang diproduksi di Ranah Minang ini memunculkan karakter-karakter luar biasa berdarah Minang, baik Dimas Aditya maupun para karakter pendatang baru. Mereka membawa warna tersendiri dalam film ini,” ujar Alle.
Sebelumnya, Dimas Aditya juga mengungkap pengalaman berbeda selama menjalani proses syuting Urang Bunian. Pengalaman berada di kawasan hutan Sumatera Barat menjadi bagian yang membuat proses produksi film tersebut terasa unik dan penuh tantangan. Pemberitaan mengenai film ini juga menyoroti pengalaman Dimas selama berada di lokasi syuting.
Namun, bagi Alle, salah satu kekuatan paling menarik justru hadir melalui karakter Parewa yang diperankan Pinto Janir.
Pinto Janir dikenal sebagai penyair, budayawan dan aktor teater. Dalam film tersebut, ia dinilai mampu menghadirkan karakter Parewa dengan permainan yang sangat total.
“Parewa yang diperankan Pinto Janir adalah Sang Raja Puisi, bangsawan pikiran, juragan kata dan budayawan rasa.”
Alle bahkan melihat adanya sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kemampuan teknis akting Pinto.
Menurutnya, karakter Parewa yang dimainkan Pinto seolah memiliki koneksi energi dengan dunia yang menjadi latar cerita Urang Bunian.
“Saya melihat adanya koneksi energi dalam diri Pinto dengan dunia Urang Bunian. Jadi wajar jika jiwa dan chemistry seorang aktor teater seperti Pinto Janir bisa dirasakan sangat kuat oleh lawan main maupun kru.”
Bagi Alle, totalitas Pinto membuat karakter Parewa terasa bukan sekadar tokoh dalam cerita. Ada aura dan atmosfer yang membuat karakter tersebut seolah menjadi bagian dari dunia Urang Bunian itu sendiri.
“Perhatikan mata Sang Parewa Pinto Janir, rasakan kekuatan aura mistiknya dan terima sinyal komunikasi dan keberadaan dunia Urang Bunian.”
Kagum pada Rendy H
Alle juga memberikan apresiasi kepada sutradara Rendy H, yang menurutnya memiliki kemampuan kuat dalam mengolah cerita dan atmosfer film.
Hubungan Alle dan Rendy sendiri bukan sekadar hubungan profesional. Keduanya pernah bermain bersama dalam dua judul film FTV.
Karena itu, Alle mengaku mengetahui kemampuan Rendy dalam dunia akting maupun produksi film.
“Saya juga sangat kagum dengan kelihaian tangan sahabat saya, Rendy, sang sutradara. Kami pernah bermain dalam dua judul film FTV. Saya mengakui kemampuan akting dan kapasitas Rendy yang sangat luar biasa.”
Ia mengaku tidak menyangka sejumlah rekan yang pernah bersamanya dalam produksi film layar lebar maupun FTV akhirnya kembali dipertemukan dalam sebuah karya yang membawa kisah Urang Bunian dari Ranah Minang ke hadapan publik.
“Saya tak menyangka, rekan-rekan yang sangat profesional dan pernah bermain film layar lebar dan FTV dengan saya bersatu dan berperan menghadirkan Urang Bunian dari Ranah Minang, Sumatera Barat, ke hadapan publik.”
Pendatang Baru Ikut Mencuri Perhatian
Selain Dimas Aditya dan para pemain berpengalaman, Alle juga memberikan perhatian kepada para pendatang baru yang terlibat dalam film tersebut.
Ia menilai kehadiran mereka memberikan warna baru sekaligus memperkuat nuansa lokal yang ingin dibangun.
Namun, sekali lagi, sosok Pinto Janir sebagai Parewa menjadi salah satu hal yang paling membuatnya terkesan.
“Kemampuan para pendatang baru, terutama si Parewa Urang Bunian, Pinto Janir, sangat berhasil membawa perasaan dan imajinasi ke dunia gaib, seolah itu adalah kenyataan.”
Bahkan, Alle memberikan penilaian yang cukup tinggi terhadap keberhasilan karakter tersebut dalam membangun atmosfer film.
“Urang Bunian menjadi roh sesungguhnya film horor Indonesia.”
Pernyataan Alle tersebut sejalan dengan daya tarik utama film yang memang membawa penonton ke dunia Urang Bunian yang penuh misteri. Lembaga Sensor Film (LSF) mencatat Urang Bunian sebagai film bergenre horor dengan tema terjebak di dunia Urang Bunian, dengan produksi RH Entertainment dan DHF Entertainment.
Dimas Aditya dan Misteri Hutan Sumatera Barat
Sementara itu, pengalaman Dimas Aditya selama menjalani proses produksi turut menambah cerita di balik layar.
Syuting di kawasan hutan Sumatera Barat disebut memberikan pengalaman tersendiri bagi pemeran utama tersebut. Suasana lokasi, panjangnya proses pengambilan gambar hingga pengalaman yang dirasakan selama berada di alam terbuka menjadi bagian dari cerita produksi Urang Bunian.
Bagi Alle, pengalaman tersebut justru memperlihatkan bagaimana sebuah produksi film horor membutuhkan lebih dari sekadar akting.
Atmosfer, lokasi, karakter, budaya dan kemampuan pemain dalam membangun emosi menjadi satu kesatuan yang menentukan kekuatan cerita.
Dan dalam konteks itulah, ia melihat Urang Bunian memiliki potensi untuk menjadi karya horor yang membawa identitas lokal Minangkabau ke ruang perfilman nasional.
“Perhatikan mata Sang Parewa. Rasakan kekuatan aura mistiknya. Di sana ada imajinasi, karakter, budaya dan energi yang membuat dunia Urang Bunian terasa hidup.”
Alle yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh komunitas perfilman Indonesia itu meyakini bahwa kekuatan film horor Indonesia tidak selalu harus datang dari cerita besar dengan latar luar negeri atau teknologi efek visual semata.
Menurutnya, kekayaan budaya Nusantara—termasuk mitologi, folklore dan cerita masyarakat Minangkabau—memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi karya sinema yang kuat.
Urang Bunian, menurut Alle, menjadi salah satu contoh bagaimana legenda lokal dapat dibawa keluar dari ruang cerita masyarakat dan diperkenalkan kepada penonton yang lebih luas melalui medium film.
“Urang Bunian bukan sekadar cerita tentang makhluk gaib. Ia adalah bagian dari imajinasi, budaya dan kekayaan cerita Nusantara. Ketika para aktor mampu menghadirkannya dengan totalitas, dunia itu seolah benar-benar hidup di hadapan penonton,” pungkas Alle De Varco.
Sumber: VIVA, Detikcom, Liputan6, Lembaga Sensor Film (LSF), dan pernyataan Alle De Varco.
Editor: Athur PL
0
0
0
0
0
0