Redaksi Sumbar

Para siswa SMA N 2 Tanah Putih Ujung Tanjung berdialog dengan Ketua Lembaga Tepak Sirih Muhammad Sarbaini alias Rahmat Pantun, Jumat (11/9/2026). Dari ruang dialog itu, pelajar menggali kembali jejak budaya Melayu yang mulai berhadapan dengan derasnya arus modernisasi.

Saat Budaya Asing Membanjiri Layar, Pelajar Rokan Hilir Justru Memburu Identitas Melayu

11 Sep 2026 - 39 View

Para siswa SMA N 2 Tanah Putih Ujung Tanjung berdialog dengan Ketua Lembaga Tepak Sirih Muhammad Sarbaini alias Rahmat Pantun, Jumat (11/9/2026). Dari ruang dialog itu, pelajar menggali kembali jejak budaya Melayu yang mulai berhadapan dengan derasnya arus modernisasi.

ROKAN HILIR, RedaksiDaerah.com — Ketika budaya lokal berhadapan dengan derasnya arus modernisasi dan budaya digital, sejumlah pelajar SMA N 2 Tanah Putih Ujung Tanjung justru memilih kembali menengok akar identitasnya. Mereka mendatangi Sekretariat Lembaga Tepak Sirih di Kepenghuluan Batu Hampar, Kecamatan Tanah Putih Tanjung Melawan, Kabupaten Rokan Hilir, Jumat sore (11/9/2026).

 

Kunjungan itu sekilas terlihat seperti kegiatan akademik biasa. Namun, di balik tugas penyusunan makalah, para siswa membawa misi yang jauh lebih penting: mencari pengetahuan langsung tentang seni, adat, tradisi, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat Melayu yang tumbuh dan diwariskan di lingkungan mereka sendiri.

 

Di tengah generasi muda yang setiap hari begitu dekat dengan budaya global melalui layar telepon genggam, langkah para pelajar tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak semestinya membuat generasi muda tercerabut dari akar budayanya. Modern boleh, tetapi kehilangan identitas bukan sebuah prestasi.

 

Kedatangan rombongan siswa disambut Ketua Lembaga Tepak Sirih, Muhammad Sarbaini, yang akrab disapa Rahmat Pantun. Ia mengapresiasi keberanian para pelajar untuk tidak hanya mencari referensi dari buku atau internet, tetapi datang langsung menemui pihak yang memahami perjalanan dan praktik kebudayaan Melayu.

 

“Kami menyambut baik dan sangat gembira dengan kedatangan adik-adik dari SMA N 2 Tanah Putih. Semoga kunjungan ini dapat memperluas wawasan generasi muda sekaligus memperkuat komitmen kita bersama dalam menjaga serta melestarikan warisan budaya daerah, khususnya budaya Melayu di Rokan Hilir,” ujar Rahmat Pantun.

 

Dalam dialog tersebut, para siswa aktif mengajukan pertanyaan dan menggali berbagai informasi mengenai seni, adat istiadat, tradisi hingga nilai-nilai luhur yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Melayu. Informasi yang diperoleh kemudian dicatat sebagai bahan penyusunan tugas sekaligus menjadi pengalaman langsung yang tidak selalu bisa diperoleh di ruang kelas.

 

Yang menarik, para pelajar tidak berhenti pada sekadar mencatat nama-nama tradisi. Mereka mencoba memahami konteks dan makna yang berada di balik kebudayaan tersebut. Di titik inilah pendidikan budaya menemukan relevansinya: siswa tidak hanya mengenal budaya sebagai materi pelajaran, tetapi melihatnya sebagai bagian dari identitas masyarakat tempat mereka tumbuh.

 

Fenomena itu sekaligus mematahkan anggapan bahwa generasi Z sepenuhnya tidak tertarik terhadap budaya lokal. Persoalannya bukan semata-mata ada atau tidaknya minat, melainkan apakah generasi muda diberikan ruang untuk bertanya, berdialog, mengalami dan memahami kebudayaan secara langsung.

 

Di era ketika algoritma media sosial dapat mengenalkan berbagai budaya dunia hanya dalam hitungan detik, tantangan pelestarian budaya lokal justru semakin besar. Budaya yang tidak dikenali generasinya sendiri berisiko berubah menjadi sekadar simbol seremonial—dipajang ketika diperlukan, tetapi dilupakan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Karena itu, kunjungan SMA N 2 Tanah Putih ke Lembaga Tepak Sirih memiliki pesan yang lebih luas daripada sekadar penyelesaian tugas sekolah. Sekolah, lembaga adat, pemerintah daerah dan masyarakat memiliki ruang yang sama untuk memastikan pengetahuan budaya tidak terputus di tengah pergantian generasi.

 

Pelestarian budaya tidak cukup berhenti pada festival, seremoni atau penggunaan atribut tradisional. Ia harus dipelajari, dipahami, dipraktikkan, didokumentasikan dan diwariskan. Ketika pelajar mulai datang langsung kepada sumber pengetahuan budaya, di situlah proses pewarisan itu menemukan bentuk yang lebih nyata.

 

Sore itu, para siswa mungkin datang membawa tugas sekolah. Namun mereka pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: pengetahuan tentang identitas dan akar budaya sendiri. Sebab, selama masih ada generasi muda yang bersedia mencari, bertanya dan belajar, budaya Melayu Rokan Hilir tidak hanya akan menjadi cerita masa lalu—tetapi tetap memiliki kesempatan untuk hidup, berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

-------

Reporter: Malin Batuah 

Editor: Fernando Stroom 

Sumber: Liputan 

Apa yang anda rasakan setelah membacanya...?

love

0

Suka
dislike

0

Kecewa
wow

0

Wow
funny

0

Lucu
angry

0

Marah
sad

0

Sedih