21 Jan 2026 - 25 View
PATI - RedaksiDaerahKalau yang dipalak konglomerat, maklum. Ini yang dipalak perangkat desa. Benar-benar bangke kelakuan Sudewo bersama Tim 8 nya. Simak narasinya dan seruput Koptagul, lalu tahan emosinya, wak!
Lihat ndak muka Sudewo, Bupati Pati waktu digelandang ke Gedung Merah Putih, kemarin. Topi nutup dahi, jaket nempel di badan, gayanya bukan pejabat, tapi preman dari segala preman. Wajahnya tenang. Dingin. Kosong. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada malu. Tidak ada ekspresi khilaf. Yang ada cuma aura orang yang sudah kebal dosa. Ini bukan maling ketangkap basah. Ini bangsat (bangke) yang sudah lama berenang di comberan kekuasaan sampai bau busuknya dianggap wangi.
Jangan salah, ini bukan kasus receh. Ini bukan amplop isi 5 juta. Ini Rp2,6 miliar. Uang segitu dikumpulkan dari jual beli jabatan perangkat desa. Orang kampung, wak. Perangkat desa yang gajinya cuma Rp2.000.000 – Rp2.700.000 per bulan. Mereka dipalak, bukan diminta. Setoran per kepala Rp165.000.000 sampai Rp225.000.000. Bayangkan, gaji segitu, disuruh setor segitu. Ini bukan seleksi jabatan. Ini lelang bangsat. Siapa setor paling tebal, duduk. Siapa miskin, mampus.
Uangnya disimpan di mana? Ini bagian dramatis dan epic, wak. Uang hasil pemalakan itu disimpan di karung hijau. KARUNG. Bukan brankas. Bukan rekening. KARUNG. Kayak beras Bulog. Kayak pupuk subsidi. Kayak hasil rampokan habis subuh. Simbol paling jujur dari otak koruptor kampungan. Seolah uang rakyat itu gabah hasil panen yang tinggal dipikul pulang. Jijik? Harusnya muntah.
Coba pakai logika warung kopi. Kalau setor Rp165.000.000 – Rp225.000.000 buat jabatan dengan gaji Rp2.000.000 per bulan, butuh 6–10 tahun cuma buat balik modal. Itu kalau hidup pakai fotosintesis, makan sinar matahari, anak disekolahkan sama malaikat. Jangan pura-pura kaget kalau habis duduk, yang dicari bukan pengabdian, tapi cara nyedot duit balik. Pungli, main dana desa, proyek fiktif, mark-up. Semua jadi halal di kepala orang yang dari awal sudah dipaksa jadi bajingan.
Sudewo yang dijuluki "Penantang Rakyat" ini tidak kerja sendirian. Ada yang namanya Tim 8. Mantan tim sukses Pilkada. Sekarang naik jabatan jadi makelar kekuasaan. Tugasnya simpel, jemput setoran, kumpulin uang, antar ke bos. Ini bukan tim sukses. Ini sindikat. Ini calo jabatan pakai KTP politik. Semua tahu ini kotor. Semua tahu ini busuk. Tapi tetap jalan, karena bau uang Rp2,6 miliar lebih harum dari suara nurani yang sudah lama mati ketabrak ambisi.
Yang bikin tambah naik darah, praktik kayak gini bukan baru kemarin sore. Ini sudah lama. Dari daerah ke daerah, polanya sama. Kepala daerah jadi raja kecil. Jabatan dijual. Loyalitas dibeli. Desa dijadikan ladang perburuan. Warga dijadikan sapi perah. Semua pura-pura tidak tahu. Semua diam. Karena takut. Karena sudah kebal. Karena lama-lama bangsat itu terasa normal.
Jangan ada yang berani buka mulut bilang ini cuma oknum. Omongan warung yang tolol. Kalau sistem memungkinkan orang kayak Sudewo ngumpulin Rp2,6 miliar dari jual jabatan desa, berarti sistemnya ikut bangsat. Sudewo ini bukan anomali. Dia poster. Dia contoh hidup betapa busuknya kekuasaan kalau dipegang orang yang otaknya cuma mikir setor-setoran.
Ini bukan sekadar korupsi, wak. Ini penghinaan terbuka ke orang desa. Ini ludah di muka rakyat kecil. Ini bukti, bagi sebagian penguasa, jabatan bukan amanah, tapi alat merampok. Siapa pun yang baca ini tapi perutnya tidak mual, kepalanya tidak panas, dan emosinya tidak naik ke ubun-ubun, mungkin sudah terlalu lama nongkrong di warkop sambil menganggap kebusukan sebagai hal biasa.
"Itu baru perangkat desa yang dipalak. Gimana dengan posisi Kadis, Kabag, Kabid, Kepsek, dll. Mau berapa lagi setorannya."
"Parah wak. Modelan macam Sudewo itu banyak, cuma belum ke
na apesnya saja." ups
Editor : TE RDG
0
0
0
0
0
0