7 Mar 2026 - 175 View
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Alor Timur Laut kembali menuai sorotan publik. Kali ini, masyarakat Desa Nailang dikejutkan dengan temuan yang cukup mengkhawatirkan, yakni adanya ulat pada menu buah pisang yang dibagikan dalam program tersebut.
Temuan ini memicu keresahan di tengah masyarakat, khususnya para orang tua yang anak-anaknya menjadi penerima manfaat dari program MBG. Program yang seharusnya menjadi upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak justru dinilai belum dikelola secara maksimal, terutama dalam hal kebersihan dan kualitas bahan makanan.
Menurut informasi yang dihimpun dari warga, ulat tersebut ditemukan saat makanan hendak dikonsumsi. Beberapa siswa dan masyarakat yang melihat kondisi tersebut langsung merasa khawatir, karena makanan yang diberikan dalam program resmi pemerintah seharusnya melalui proses pemeriksaan kualitas dan kebersihan sebelum dibagikan.
Seorang warga Desa Nailang menyampaikan bahwa kejadian ini semakin menambah daftar persoalan yang sebelumnya juga sempat dikeluhkan masyarakat terkait pelaksanaan program MBG di wilayah tersebut. Warga menilai, kejadian seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi jika pengawasan dan pengelolaan program dilakukan secara serius dan bertanggung jawab.
“Ini bukan sekadar soal buah pisang, tetapi soal keamanan makanan yang dikonsumsi anak-anak. Kalau sampai ada ulat di dalam makanan, itu berarti ada yang tidak beres dalam proses pengadaan atau pemeriksaan makanan,” ujar seorang warga dengan nada kecewa.
Masyarakat pun meminta Bupati dan Wakil Bupati Alor untuk segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di Kecamatan Alor Timur Laut, khususnya di Desa Nailang. Mereka berharap pemerintah daerah tidak menganggap persoalan ini sebagai hal sepele.
Bagi masyarakat, program yang berkaitan langsung dengan kesehatan anak-anak tidak boleh dijalankan secara asal-asalan. Jika tidak ada pengawasan yang ketat, maka potensi masalah akan terus berulang dan pada akhirnya bisa menimbulkan dampak yang lebih serius.
“Jangan sampai nanti baru bertindak setelah ada anak yang sakit atau terjadi hal yang tidak diinginkan. Lebih baik dicegah sekarang dengan melakukan evaluasi dan tindakan tegas,” ungkap salah satu tokoh masyarakat setempat.
Kritik juga diarahkan kepada pihak pengelola program di lapangan yang dinilai kurang teliti dalam memastikan kualitas makanan sebelum didistribusikan kepada para penerima manfaat. Padahal, dalam program pelayanan publik yang menyangkut kesehatan, standar kebersihan dan keamanan makanan seharusnya menjadi prioritas utama.
Masyarakat berharap kejadian ini tidak hanya berhenti sebagai keluhan semata, tetapi benar-benar menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Pergantian tenaga ahli Gizi , Evaluasi,pengawasan yang ketat, serta transparansi dalam pengelolaan program dinilai penting agar tujuan utama program MBG — meningkatkan kualitas gizi anak-anak — benar-benar tercapai.
Bagi warga Desa Nailang, persoalan ini bukan sekadar masalah kecil. Mereka menilai, makanan yang tidak layak konsumsi bukan hanya mencederai tujuan program, tetapi juga dapat membahayakan kesehatan generasi muda jika terus dibiarkan tanpa perbaikan.*** Tim Redaksi
0
0
0
1
0
1