7 Mar 2026 - 281 View
Tanah Datar, RedaksiDaerah.com — Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden RI untuk meningkatkan gizi anak-anak justru kembali menuai sorotan di Kabupaten Tanah Datar. Kali ini, dapur MBG yang dikelola Yayasan Mitra Cendekia Waskita melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pagaruyung 2 di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, diduga menyalurkan roti kedaluwarsa bahkan berulat kepada siswa sekolah.
Temuan ini memicu kemarahan dan kekhawatiran para orang tua murid. Makanan yang seharusnya menjadi bagian dari program peningkatan gizi anak bangsa justru diduga tidak layak konsumsi dan berpotensi membahayakan kesehatan siswa.
keterangan foto: Salah seorang masyarakat memosting foto makanan MBG dari SPPG Pagaruyung 2 di media sosial FB atas nama akun Wulan Dari yang kecewa dengan adanya makanan berjenis roti yang sudah kadaluarsa dan berulat.
Ironisnya, dugaan ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, masyarakat juga sempat dihebohkan dengan temuan roti berjamur yang diduga berasal dari dapur SPPG dan dibagikan kepada siswa di sejumlah sekolah di Kecamatan Lima Kaum. Kini, kasus serupa kembali mencuat dari dapur MBG di wilayah Tanjung Emas.
Peristiwa ini mencuat setelah beredar foto dan video di kalangan orang tua siswa yang memperlihatkan roti isi stroberi dengan kondisi memprihatinkan. Dalam rekaman tersebut terlihat adanya ulat pada bagian isi roti, memunculkan kegelisahan serius di tengah masyarakat.
Keterangan foto: Salah satu sekolah di Nagari Pagaruyung penerima manfaat dari Makan Bergizi Gratis (MBG).
Makanan tersebut disebut-sebut berasal dari paket konsumsi program MBG yang dibagikan kepada siswa di salah satu sekolah di Kecamatan Tanjung Emas. Jika benar, kejadian ini menjadi tamparan keras bagi pengelola program yang seharusnya mengedepankan standar keamanan pangan.
Tim investigasi RedaksiDaerah.com kemudian menelusuri informasi tersebut dengan mewawancarai salah seorang orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya. Ia mengaku terkejut dan sangat kecewa ketika mengetahui makanan yang diterima anaknya dalam kondisi tidak layak.
“Bagaimana kalau anak-anak kami sampai keracunan? Siapa yang bertanggung jawab? Kami sebagai orang tua tentu sangat takut kalau kesehatan anak kami terganggu akibat makanan seperti itu,” ungkapnya dengan nada penuh kekhawatiran.
Menurutnya, program MBG sejatinya sangat membantu masyarakat. Namun jika pengelolaannya tidak serius dan pengawasan longgar, maka program yang seharusnya membawa manfaat justru bisa berubah menjadi ancaman bagi kesehatan anak-anak.
Kejadian ini sekaligus memunculkan tanda tanya besar mengenai sistem pengawasan dan kontrol kualitas makanan yang disalurkan oleh dapur SPPG di daerah tersebut. Publik menilai ada kelemahan serius dalam proses distribusi dan pemeriksaan makanan sebelum dibagikan kepada siswa.
RedaksiDaerah.com telah mencoba melakukan konfirmasi kepada pemilik dapur SPPG Pagaruyung 2, Fauzia Rasna, melalui pesan WhatsApp. Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan atau klarifikasi atas dugaan tersebut.
Sikap bungkam ini justru semakin memperkuat kegelisahan publik. Masyarakat menilai pengelola dapur MBG seharusnya memberikan penjelasan terbuka kepada publik, terlebih jika menyangkut konsumsi anak-anak sekolah.
Kini perhatian masyarakat tertuju kepada Pemerintah Kabupaten Tanah Datar untuk segera turun tangan. Banyak pihak menilai kasus ini tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut kesehatan ribuan siswa yang menjadi sasaran program MBG.
Masyarakat pun mendesak Bupati Tanah Datar, Eka Putra, untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh dapur SPPG yang beroperasi di wilayah Tanah Datar. Pengawasan ketat dinilai menjadi langkah mendesak agar program yang bertujuan mulia ini tidak berubah menjadi sumber masalah baru bagi anak-anak di daerah.
---
Reporter: Tim Redaksi
Editor: RD TE Sumbar
Sumber: Liputan investigasi
0
0
0
0
0
0