Redaksi Sumbar

Kepala Dinas Parpora Tanah Datar, Riswandi, S.Pd, M.Pd, membuka secara resmi Alek Pacu Jawi di Sawah Baliak, Nagari Sawah Tangah, Kecamatan Pariangan, Sabtu (4/10/2025). Turut hadir anggota DPRD Tanah Datar Yonnarlis, Camat Pariangan baru A.H. Miza Aziz, mantan Camat Beni Oriza, serta tokoh masyarakat dan ratusan warga yang memadati area sawah.

Alek Pacu Jawi di Sawah Tangah Resmi Dibuka, Tradisi Minangkabau yang Terus Mengakar di Tanah Datar

4 Okt 2025 - 625 View

Kepala Dinas Parpora Tanah Datar, Riswandi, S.Pd, M.Pd, membuka secara resmi Alek Pacu Jawi di Sawah Baliak, Nagari Sawah Tangah, Kecamatan Pariangan, Sabtu (4/10/2025). Turut hadir anggota DPRD Tanah Datar Yonnarlis, Camat Pariangan baru A.H. Miza Aziz, mantan Camat Beni Oriza, serta tokoh masyarakat dan ratusan warga yang memadati area sawah.

Tanah DatarRedaksiDaerah.com — Lembah hijau di Nagari Sawah Tangah, Kecamatan Pariangan, Tanah Datar, kembali bergemuruh, Sabtu (4/10/2025). Dentuman kaki sapi dan sorak sorai penonton mewarnai pembukaan Alek Pacu Jawi di Sawah Baliak, Jorong Galanggang Jaya, dengan tema “Merajut Kembali Tali Silaturrahmi Melalui Alek Pacu Jawi di Nagari Sawah Tangah.”

 

Pacu jawi bukan sekadar lomba sapi berlari di sawah berlumpur. Ia adalah napas tradisi Minangkabau yang sudah berumur ratusan tahun — lahir dari budaya agraris yang sarat makna syukur. Dulu, pacu jawi digelar selepas panen sebagai ungkapan terima kasih masyarakat kepada Allah SWT, sekaligus bentuk hiburan rakyat yang mempersatukan nagari.

 

Kini, tradisi itu menjelma menjadi ikon pariwisata dunia. Bahkan, Pacu Jawi Tanah Datar telah masuk dalam kalender resmi pariwisata daerah, dan hanya digelar di empat kecamatan: Sungai Tarab, Lima Kaum, Pariangan, dan Rambatan. Di empat titik itulah, denyut budaya Minang masih bertahan melawan derasnya arus modernitas.

 

Alek pacu jawi di Sawah Tangah kali ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Parpora) Tanah Datar, Riswandi, S.Pd, M.Pd, yang menegaskan bahwa pacu jawi adalah aset budaya yang harus dijaga, bukan sekadar tontonan.

 

“Kegiatan ini bukan hanya soal hiburan, tapi tentang warisan, identitas, dan kebanggaan. Kita ingin generasi muda memahami bahwa di balik lumpur ini tersimpan nilai gotong royong dan rasa syukur yang tinggi,” ujar Riswandi di hadapan ratusan penonton.

 

Riswandi juga berharap kegiatan ini dapat menjadi perekat sosial antarwarga dan memperkuat ekonomi lokal, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor wisata dan UMKM di sekitar lokasi pacu jawi.

 

Momentum alek kali ini juga diwarnai suasana haru. Acara tersebut sekaligus menjadi momen perpisahan Camat Pariangan lama, Beni Oriza, S.Pd, dengan masyarakat Nagari Sawah Tangah, serta perkenalan Camat Pariangan baru, A.H. Miza Aziz, S.Sos.

 

Dalam sambutannya, Beni Oriza menyampaikan rasa terima kasihnya kepada masyarakat yang selama ini mendukung program pembangunan nagari.

 

“Saya pamit dengan penuh rasa hormat. Banyak kenangan yang tak terlupakan di Pariangan. Semoga Camat baru dapat melanjutkan perjuangan dengan lebih baik,” ucapnya.

 

Sementara A.H. Miza Aziz, Camat Pariangan yang baru, menegaskan komitmennya untuk melanjutkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat.

 

“Saya ingin melanjutkan semangat kebersamaan yang sudah ditanamkan oleh camat sebelumnya. Tradisi seperti pacu jawi ini akan terus kita dorong sebagai daya tarik wisata dan identitas daerah,” katanya.

 

Turut hadir dalam kesempatan itu anggota DPRD Tanah Datar dari Fraksi PKB Dapil III, Yonnarlis, yang memberikan apresiasi atas pelaksanaan alek pacu jawi ini.

 

“Pacu jawi bukan hanya kebanggaan Tanah Datar, tapi kebanggaan Sumatera Barat. Saya akan terus mendukung kegiatan seperti ini agar tetap hidup dan berdaya tarik wisata tinggi,” ujar Yonnarlis kepada wartawan.

 

Selain masyarakat Nagari Sawah Tangah, kegiatan ini juga dihadiri oleh Walinagari Sawah Tangah, Ketua BPRN, Ketua KAN, mahasiswa KKN UIN Mahmud Yunus Batusangkar, serta sejumlah tokoh masyarakat yang turut menyemarakkan suasana.

 

Di tengah lumpur dan teriakan penonton, terlihat wajah-wajah sumringah — dari anak kecil hingga orang tua. Ada semangat, ada kebanggaan, ada cerita panjang yang terus hidup dalam lumpur sawah itu. Karena di Tanah Datar, pacu jawi bukan sekadar lomba. Ia adalah jiwa yang berlari di atas tanah leluhur.

 

---

Reporter: Fernando 

Editor: RD TE Sumbar 

Apa yang anda rasakan setelah membacanya...?

love

0

Suka
dislike

0

Kecewa
wow

0

Wow
funny

0

Lucu
angry

0

Marah
sad

0

Sedih