9 Mar 2026 - 22 View
Sijunjung,RedaksiDaerah.Com — Suara mesin excavator terdengar memecah kesunyian pagi di sebuah kawasan perbukitan Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Tanah merah yang terkoyak terlihat menganga. Di bawahnya, para pekerja sibuk mengalirkan lumpur melalui selang panjang menuju bak penyaring emas.
Aktivitas itu berlangsung tanpa tanda-tanda rasa takut. Padahal, kegiatan tersebut diduga merupakan penambangan emas tanpa izin (PETI) yang secara hukum dilarang.
Investigasi yang dilakukan tim Redaksi Daerah selama beberapa waktu terakhir menemukan bahwa aktivitas tambang ilegal di wilayah ini tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Di beberapa lokasi, alat berat bahkan bekerja pada siang hari.
Seorang warga yang ditemui di sekitar lokasi tambang mengaku kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama.
“Mesinnya sering hidup. Kadang dari pagi sampai malam,” katanya pelan.
Sejumlah sumber menyebutkan bahwa praktik PETI di wilayah ini telah berkembang menjadi bisnis bernilai besar.
Satu unit excavator disebut bisa disewa hingga sekitar Rp150 juta untuk 100 jam kerja. Dengan aktivitas yang berlangsung hampir setiap hari, perputaran uang dari satu titik tambang saja diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Jika dihitung dari jumlah lokasi yang beroperasi, nilainya bisa jauh lebih besar.
Namun di balik angka-angka itu, muncul pertanyaan yang lebih besar: mengapa aktivitas tersebut seolah berjalan tanpa hambatan?
Beberapa sumber yang ditemui tim investigasi menyebut adanya aliran dana rutin dari pengusaha tambang kepada pihak-pihak tertentu.
Dana tersebut diduga disiapkan sebagai bentuk “koordinasi” agar aktivitas tambang tidak menjadi sorotan atau mengalami gangguan
“Setiap bulan bisa puluhan juta,” ujar salah satu sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Dana itu, menurut sumber tersebut, diduga mengalir ke beberapa pihak yang memiliki pengaruh terhadap keberlangsungan operasi tambang.
Dalam penelusuran investigasi, nama seorang oknum wartawan berinisial W mulai disebut dalam sejumlah percakapan.
Ia diduga memiliki peran sebagai penghubung komunikasi antara pengusaha tambang dan pihak-pihak tertentu.
Seorang wartawan nasional yang mengetahui situasi di daerah tersebut mengatakan bahwa nama W sering muncul ketika pembahasan mengenai pemberitaan tambang emas ilegal berlangsung.
“Kalau mau konfirmasi soal tambang itu, biasanya orang diarahkan ke W,” ujarnya.
Ia bahkan pernah mendengar bahwa pengusaha tambang telah mengeluarkan dana besar agar aktivitas mereka tidak menjadi sorotan media.
“Pengusaha sudah banyak mengeluarkan uang supaya berita ini tidak naik,” katanya.
Saat dihubungi melalui pesan WhatsApp untuk dimintai klarifikasi, wartawan berinisial W tidak memberikan tanggapan hingga laporan ini ditulis.
Sejumlah sumber juga menyebut adanya dugaan hubungan tidak sehat antara beberapa pihak dengan aktivitas tambang ilegal tersebut.
Meski belum dapat dipastikan kebenarannya, informasi yang beredar di lapangan menyebut bahwa praktik PETI di wilayah ini diduga tidak berdiri sendiri.
Ada jaringan yang bekerja secara diam-diam untuk memastikan aktivitas tetap berjalan.
Jaringan inilah yang oleh sebagian warga disebut sebagai “perlindungan sunyi.”
Sebuah sistem yang membuat aktivitas ilegal seolah tidak terlihat.
Di balik perputaran uang yang besar, dampak lingkungan mulai terasa.
Lubang-lubang bekas tambang meninggalkan luka di permukaan tanah. Aliran sungai berubah warna menjadi keruh.
Jika aktivitas tersebut terus berlangsung, bukan tidak mungkin kerusakan yang terjadi akan semakin luas.
Bagi sebagian warga, masalah ini bukan lagi sekadar tambang ilegal.
Ini adalah soal apakah hukum benar-benar berlaku sama bagi semua orang.
Jika aktivitas tambang ilegal berskala besar dapat berjalan secara terbuka, maka kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum perlahan akan terkikis.
Kini, publik menunggu satu hal: keberanian untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik PETI Sijunjung.
Reportase : Tim Sumber : Liputan Investigasi Editor : TE RD Sumbar
PART Selanjutnya : investigasi yang jauh lebih kuat
0
0
0
0
0
0