9 Okt 2025 - 498 View
Tanah Datar – RedaksiDaerah.com — DPP Indonesia Home Stay Association (IHSA) kembali mencetak sejarah dalam upaya memperkuat jaringan pariwisata berbasis masyarakat di kawasan Asia Tenggara dengan menyelenggarakan Asean Homestay Forum (AHF) 2025. Ajang bergengsi tingkat internasional ini digelar pada 7–11 Oktober 2025 di Provinsi Sumatera Barat, mengusung tema besar “Unity in Motion Toward ASEAN Homestay Sustainability” atau “Persatuan dalam Gerakan Menuju Keberlanjutan Homestay ASEAN.”
Forum ini menjadi wadah bertemunya pelaku, pegiat, dan pemangku kebijakan di bidang homestay dari berbagai negara ASEAN. AHF 2025 tidak hanya menjadi ajang berbagi pengalaman dan praktik terbaik, tetapi juga momentum memperkuat identitas pariwisata berbasis budaya dan kearifan lokal. Sumatera Barat, dengan kekayaan adat Minangkabau yang masih hidup dan lestari, dipandang sebagai lokasi paling tepat untuk perhelatan berskala internasional ini.
Ketua DPP IHSA Indonesia, Hentje Alvy Pongoh, SE, MM, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi kepada Gubernur Sumatera Barat, serta seluruh jajaran pemerintah daerah Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok atas dukungan penuh terhadap penyelenggaraan AHF 2025. “Tanpa dukungan pemerintah daerah, terutama semangat masyarakat lokal, kegiatan ini tidak akan mencapai esensinya sebagai forum kolaboratif ASEAN,” ujar Hentje.
Dalam rangkaian kegiatan AHF 2025, IHSA menyoroti pentingnya pengembangan homestay berbasis kearifan lokal dan keterlibatan masyarakat. Konsep ini menempatkan warga sebagai pelaku utama pariwisata, bukan sekadar penonton. Menurut Hentje, homestay adalah alternatif pariwisata yang tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga menumbuhkan ekonomi masyarakat desa tanpa mengorbankan nilai-nilai budaya setempat.
Salah satu sesi menarik dalam forum ini membahas program pertukaran budaya ASEAN. Pembicara dari Indonesia dan Malaysia menelusuri kembali hubungan sejarah antara kedua negara yang berakar di Tanah Datar. Mereka menyinggung Kerajaan Malayapura sebagai bukti historis keterhubungan budaya kawasan, sekaligus mengusulkan terbentuknya program pertukaran budaya lintas negara.
Dari hasil diskusi itu, muncul gagasan penyelenggaraan Seminar Nasional “Budaya dan Pariwisata”, yang menegaskan betapa erat kaitannya budaya dengan pariwisata berkelanjutan. “Pariwisata tanpa budaya hanyalah industri, bukan jati diri,” ujar salah satu pembicara dengan tegas. Seminar ini diharapkan menjadi fondasi pengembangan arah kebijakan pariwisata berbasis budaya di Indonesia dan ASEAN.
Momen penting lainnya dalam forum ini adalah Deklarasi Pembentukan Asosiasi Homestay ASEAN (AHA). Hentje Alvy Pongoh secara resmi mengumumkan pendirian asosiasi ini dan mengundang setiap negara anggota ASEAN untuk membentuk asosiasi homestay nasional mereka, lalu bergabung dalam AHA. Tujuannya jelas: menciptakan wadah koordinasi dan standardisasi untuk homestay di kawasan ASEAN.
Sebagai tindak lanjut, Hentje mengusulkan agar pelantikan resmi AHA dilaksanakan di Tanah Datar, sebagai bentuk penghargaan atas peran Sumatera Barat dalam memelopori konsep homestay berbasis budaya. Ia juga menyampaikan rencana IHSA untuk menggelar lebih banyak kegiatan kolaboratif di tahun mendatang, termasuk pelatihan, sertifikasi, dan promosi pariwisata lintas negara.
“Setelah sukses di Tanah Datar, kami menargetkan AHF ketiga akan digelar di Malaysia tahun depan,” ujar Hentje. Ia juga menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan industri homestay di ASEAN.
Acara pembukaan Seminar Nasional “Budaya dan Pariwisata” sendiri digelar megah di Gedung Maha Rajo Dirajo, Batusangkar. Kegiatan ini turut dihadiri para ketua asosiasi homestay dari berbagai daerah serta para sponsor yang mendukung penuh pelaksanaan AHF 2025. Suasana hangat dan kekeluargaan mewarnai forum ini, menegaskan semangat unity in motion yang diusung tema acara.
Wakil Bupati Tanah Datar, Ahmad Fadly, S.Pi, dalam sambutannya menegaskan bahwa daerahnya siap menjadi pionir pengembangan homestay berbasis budaya di Indonesia. “Homestay bukan sekadar penginapan, tapi jendela budaya Minangkabau yang bisa dilihat dan dirasakan wisatawan,” ucapnya disambut tepuk tangan peserta forum.
Sementara itu, Ketua DPC IHSA Kabupaten Tanah Datar, Robi Zandriko, SE, MM, menyatakan bahwa kegiatan internasional ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat setempat. “Kami berharap forum ini membawa manfaat nyata bagi pelaku homestay dan UMKM lokal, serta memperkuat posisi Tanah Datar sebagai destinasi pariwisata budaya di tingkat ASEAN,” ujarnya kepada wartawan dengan penuh optimisme.
Dengan semangat kolaborasi dan keberlanjutan, AHF 2025 di Tanah Datar bukan sekadar pertemuan, melainkan titik tolak baru bagi ASEAN dalam memaknai pariwisata sebagai kekuatan sosial dan ekonomi yang berpihak pada rakyat.
---
Reporter: Fernando
Editor: RD TE Sumbar
0
0
0
0
0
0