Redaksi Sumbar

Empat dekade lebih berlalu, luka bencana masih terasa. Tugu dan Galeri Foto Galodo jadi simbol kebangkitan nagari.

Dari Duka ke Doa: Walinagari Pasie Laweh Kenang Galodo 1979

29 Agt 2025 - 566 View

Empat dekade lebih berlalu, luka bencana masih terasa. Tugu dan Galeri Foto Galodo jadi simbol kebangkitan nagari.

Tanah DatarRedaksiDaerah.com – Tragedi Galodo tahun 1979 di Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, masih meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Salah satu saksi hidup sekaligus korban peristiwa memilukan itu adalah Walinagari Pasie Laweh saat ini, Hidayat, S.Pd, M.Pd, yang kala itu masih berusia 15 tahun.

 

Bencana banjir bandang atau yang akrab disebut Galodo menghantam Nagari Pasie Laweh pada 1979, menelan puluhan korban jiwa dan menghancurkan kehidupan banyak keluarga. Hidayat sendiri harus kehilangan ibu serta tiga orang kakaknya dalam peristiwa itu. Kenangan pahit tersebut masih membekas jelas di ingatannya hingga kini.

 

“Waktu itu saya masih remaja, tapi rasa takut dan kehilangan itu tidak pernah hilang. Ibu saya dan tiga kakak menjadi korban. Itu luka yang tidak bisa saya lupakan,” ujar Hidayat dengan suara bergetar saat diwawancarai.

 

Tidak hanya kehilangan orang-orang tercinta, masyarakat Pasie Laweh kala itu juga menghadapi perubahan besar dalam hidup. Lebih kurang 73 kepala keluarga korban Galodo dipindahkan ke kawasan transmigrasi Sitiung 3, Kabupaten Dharmasraya. Dari situlah mereka membangun kehidupan baru, yang kini berkembang menjadi komunitas kuat di perantauan.

 

Namun, bagi Hidayat, jejak sejarah dan kenangan pahit itu harus tetap dikenang sebagai pengingat dan pembelajaran bagi generasi mendatang. “Saya menyebutnya sebagai upaya membangkitkan batang tarandam. Luka boleh membekas, tapi dari luka itu harus tumbuh kekuatan,” katanya.

 

Sebagai bentuk penghormatan dan pengingat sejarah, Pemerintah Nagari Pasie Laweh bersama masyarakat akan meresmikan Tugu dan Galeri Foto Galodo pada 30–31 Agustus 2025 mendatang. Acara ini diharapkan menjadi momentum bersama untuk mengenang sekaligus mendoakan para korban.

 

Tugu dan galeri tersebut bukan hanya sekadar simbol, melainkan juga ruang edukasi bagi generasi muda. Di dalamnya akan dipamerkan foto-foto dokumentasi Galodo 1979 serta kisah-kisah perjuangan warga yang selamat maupun yang harus kehilangan keluarga.

 

Menurut Hidayat, pendirian tugu dan galeri foto ini adalah panggilan hati. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral, baik sebagai Walinagari maupun sebagai korban, untuk mengabadikan sejarah kelam tersebut agar tidak hilang ditelan waktu.

 

“Ini bukan hanya untuk saya atau keluarga saya. Ini untuk seluruh masyarakat Pasie Laweh, untuk korban yang sudah tiada, dan untuk anak cucu kita agar tahu apa yang pernah terjadi di nagari ini,” tegasnya.

 

Rencana peresmian itu juga mendapat dukungan penuh dari masyarakat, terutama mereka yang menjadi korban langsung maupun keluarga transmigran yang kini sudah mapan di Dharmasraya. Banyak dari mereka yang menyatakan akan hadir dalam acara tersebut.

 

Bagi masyarakat Pasie Laweh, Galodo 1979 bukan sekadar bencana, melainkan titik balik dalam perjalanan hidup nagari. Dari situ lahir kesadaran akan pentingnya solidaritas, kebersamaan, dan semangat untuk bangkit dari keterpurukan.

 

Pendirian tugu dan galeri ini juga menjadi simbol bahwa luka masa lalu tidak boleh membuat masyarakat larut dalam kesedihan. Sebaliknya, harus menjadi energi untuk menata masa depan yang lebih baik.

 

“Harapan saya, dengan berdirinya tugu dan galeri ini, kita semua bisa mengambil hikmah. Jangan pernah melupakan sejarah, karena dari sejarah kita belajar tentang keteguhan dan kebersamaan,” ungkap Hidayat.

 

Ia menambahkan, momen ini juga diharapkan mampu memperkuat ikatan emosional antara warga Pasie Laweh yang tinggal di kampung halaman dengan mereka yang sudah berkeluarga di tanah transmigrasi. “Kita ini satu akar, walau tumbuh di tanah berbeda. Tugu ini akan jadi pengikat,” ujarnya.

 

Dengan demikian, peresmian Tugu dan Galeri Foto Galodo 1979 bukan hanya agenda seremonial, tetapi juga langkah nyata untuk menjaga ingatan kolektif. Dari duka yang mendalam, lahirlah doa dan karya yang akan diwariskan untuk generasi penerus Pasie Laweh.

 

---

Reporter : Fernando 

Editor : RD TE Sumbar 

Apa yang anda rasakan setelah membacanya...?

love

1

Suka
dislike

0

Kecewa
wow

0

Wow
funny

1

Lucu
angry

0

Marah
sad

1

Sedih