25 Jun 2021 - 252 View
Padang, Redaksidaerah.com - Suasana di sekitar laga-laga taman budaya Padang terlihat puluhan anak muda duduk melingkar. Mereka berbaur, saling berkenalan dan berbincang hangat. Mereka tergabung pada Jaringan Pemuda Bicara Keberagaman Indonesia (JPBKI). Padang, (24/0621).
Silahturahmi dan Dialog Keberagaman di Sumatera Barat dalam rangka peluncuran buku Ibu Kemanusiaan, kado ulang tahun Buya Ahmad Syafii Maarif ke 86 tahun.
Hadir dalam kegiatan ini 7 panelis dari beragam latar belakang. Kabati direktur Ruang Kerja Budaya, ia salah satu penulis di Buku Ibu Kemanusiaan.
Edi Utama, budayawan senior/icon prestasi pancasila 2020. Hari Efendi Iskandar, aktivis 98 dan dosen sejarah Universitas Andalas. Dwi Wahyuni, Dosen Universitas Imam Bonjol/Pelita Padang. Nuraini Chaniago,Duta Damai Sumbar. San Siregar,Pemuda Katolik. Hieronimus Eko, ketua Forum Mahasiswa Mentawai/FORMMA.
Edi Utama menyampaikan tentang sosok Buya Ahmad Syafii Maarif yang sederhana dan bijaksana sebagai seorang guru bangsa.
"Hari Efendi Iskandar menyebut Buya tidak hanya sebagai ibu tapi juga ayah kemanusiaan," ujarnya
Dilain hal Nuraini Chaniago juga bercerita tentang gagasan Buya yang jadi fokus pada tesis S2 nya telah banyak mengubah cara pandangnya yang awalnya fundamental menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan.
San Siregar Perwakilan dari Pemuda Katolik berpendapat, bahwa ketika membaca buku Ibu kemanusiaan, ia menemukan ada kemiripan antara Buya Syafii Maarif dan Romo Magnis Suseno, terutama di gagasan kemanusiaan dan Keindonesiaan.
Hal senada juga disampaikan Hieronimus Eko ketua FORMMA Buya memiliki sikap serta pemikirannya menghargai keberagaman dan perbedaan.
Dwi Wahyuni menyebutkan merasakan jiwa perjuangannya Buya pada tulisan Ka'bati.
Ka'bati yang merupakan salah satu penulis di buku Ibu Kemanusiaan menekankan pada bahaya politik identitas bagi keberagaman dan kebangsaan.
Kegiatan dibuka oleh kata sambutan dari Jumaidi Alfi, ketua SARANG seni budaya. Selanjutnya para panelis disambut oleh Tari Pasambahan dari Sanggar Saiyo Basamo.
Tidak hanya itu, seluruh peserta juga disuguhkan penampilan puisi dari Sekolah Gender dan penampilan perkusi dari Ciekwogopek.
Selain itu juga ada Doorprize buku dari Ruang Kerja Budaya untuk 6 orang penanya pada dialog tersebut.
"Kegiatan ini digagas oleh 16 lembaga yakni :
Pelita Padang, SaRang, Duta Damai Sumbar, Sanggar Saiyo Basamo, GP Ansor, Himpunan Mahasiswa Sejarah STKIP PGRI Sumbar, Forum Mahasiswa Mentawai (Formma) Sumbar, Pemuda Katolik Padang, Gusdurian Padang, Mafindo Padang, Ruang Kerja Budaya (RKB), Sekolah Gender Sumbar, HMP Studi Agama-Agama UIN Imam Bonjol, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang, GMNI Cabang Padang, Forkasi Buddhis," Ungkap Angelique Maria Cuaca Ketua Pelita Padang kepada media Redaksidaerah.com.
2
0
0
0
0
0